Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2015

Udon

"lo dimana?? nanti sore pergi ngga??" tanya teman baikku "engga, kenapa??" "nanti malam kita makan ramen yuk, ditempat kemarin" ajaknya "ngga mau ah, mahal, sayang uangnya, ngga gitu enak juga"  "kalau gitu kita makan di 789, ada ramennya enak, ada udon juga" "hmm, mahal.." "gw mau curhat.." "oke baiklah"  "sip, kita pergi bertiga ya" telpon pun ditutup, lalu jam 5 sore "ngga jadi hari ini ya, gw lembur" "oke"  ** "nanti jadi ya" katanya keesokan hari, kali ini di chat bukan sambungan telpon.  Grup whatsapp pun dibuat untuk memudahkan komunikasi kita bertiga.. Lalu jam 4 yang satu bilang "gw lagi meeting nih" yang satunya lagi membalas "gw juga lagi meeting" akhirnya aku ikut membalas "gw juga lagi meeting" dan mereka berdua kaget.. "loh, lo meeting dimana??" "gw meeting dengan piki...

Sukses!!

Perbincangan ini baru saja terjadi kemarin.. Seorang teman berkisah tentang bekas pacarnya, heii tentu saja aku tak mau membahas tentang cinta-cintaan..  "tapi mantan saya lebih sukses" katanya temanku "kenapa?? dia lebih kaya ya??" balasku, ohh my God, poor me.. Kenapa sukses ku identifikasikan dengan materi, keceplosan yang dari hati... "engga juga sih, dia masih ngontrak, saya udah punya rumah walau masih nyicil" jawabnya dan hatiku berkata, biarpun masih nyicil, tapi kan tinggal di cluster.. "terus dia lebih sukses gimana maksudnya??" kalimat inilah yang keluar dari mulutku "dia udah punya anak, saya kan belum, tetap saja dia lebih sukses" jawab temanku Temanku ini sudah menikah, memang benar ya, arti sukses bagi setiap orang sangat berbeda.. Apa sukses versimu?? kalau versiku sih, bisa tepatin janji udah sukses, seperti aku yang berhasil menepati nazarku pada Tuhan setelah 3 tahun (padahal perkiraan awal hany...

pesan bapak

Saat kami, aku dan dua orang teman mencuci piring didapur, bapak datang. Dengan mimik seriuis, bapak bilang "saya tak habis pikir, mengapa dia bisa berpikir  dapat bertahan hidup dengan cara seperti itu?" Aku yang mengalami pekerjaan serupa langsung menjawab "loh, memangnya kenapa pak? bisa aja dong kalau kuantity nya banyak" Dengan wajah yang tetap serius bapak bilang "hanya dengan diam menanti pembeli?"  Jeng.. jeng.. bener juga ya pemikiran bapak, pemikirannya bukan kolot, hanya realistis yang mendasar.. "bagaimana bisa seorang terdidik berpikiran seperti itu??" nah loh, silakan diresapi nak