Skip to main content

Entahlah

Daritadi bingung sendiri, apa judul yang tepat untuk tulisan ini.. Padahal belum menulis sebuah kata, hanya membayangkan hasilnya saja..

Oke baiklah.. Ini dia maksud tulisannya..

Entahlah mengapa memimpikan hal itu, bermain petak umpet di gereja dengan ayah.. Lalu, anak dari bekas pacar yang dekat padaku saat perjumpaan pertama..

Kemudian, teman yang meneruskan bisnis ayahnya dan bilang 'kapan-kapan mainlah, kita ngobrol-ngobrol'.. Dekat sih tempatnya, terpikir mengajak jumpa di kungfu tea, tapi ngapain ya!?? Ke tokonya aja..

Tentang harapan yang ingin diwujudnyatakan tapi berbanding terbalik dengan prilaku..

Tentang doa yang dipanjatkan tapi tidak sesuai dengan hal yang diinginkan..

Tentang 'judging' prilaku teman tapi sekarang merasakan rasanya..

Hidup ini mau dibawa kemana?? Apakah benar, diriku malas berpikir sehingga tak mau keluar dari pekerjaan ini?? Atau itu hanya alasan agar bisa bersama-sama dengan anak spesial??

Entahlah.. Sebaiknya kau tidak membandingkan dirimu dengan orang yang bergaji lebih rendah darimu.. Jangan pula bandingkan dengan dia yang sudah ke 2negara dan 3tempat di Indonesia dalam 6bulan ini..

Pekerjaan boleh sama.. Walau gaji dan rasa berbeda, tidak baik membandingkan.. Kau sudah menyadarinya.. Jadi sadarlah..

Dan sekarang, aku sadar.. Acara minggu mendatang bertema 'keluarga' semoga aku tidak berjumpa dengan bapak dari satu anak itu semoga..

Sekarang, terima kasih semesta.. Hidupku bahagia

Comments

Popular posts from this blog

letstop

ini memang berkebalikan dengan homili kemarin.. tapi, mari berhenti.. let stop!! sudah.. berhenti saja.. tidak usah dipaksa dan tidak usah memaksa.. jika ingin masuk, sila.. jika ingin keluar, pintu terbuka.. mari berhenti.. berhenti memaksa.. biarlah semua, berjalan seperti maunya.. let stop.. just stop.. and let everythings fall into it place.. just breathe..

Berita duka

Temanku yang sudah punya staff dikantor itu bilang "paling ga enak waktu disuru ngasi satu nama untuk di phk, itu ga enak banget" Ngasih berita sedih memang ga enak, apalagi menerimanya.. :'( Rasanya seperti bertubi, mungkin ini berlebihan, tapi jika sudah memiliki keterikatan bisa saja ini dianggap normal.. Baru kemarin cerita ke mamanya teman "ga nyangka banget bu, sebelum ayah saya meninggal, papanya ini meninggal, terus papanya ini, terus papanya ini, kok ya deketan"  "terus papinya muridku kan meninggal, maminya cerita, kemarin suami dari temennya meninggal, terus suami dari temennya yang lain juga meninggal" Ahh, berita duka memang punya cerita.. Punya makna dan pelajaran, buatku.. 2017, dibulan ini, januari.. Diawal januari, berita duka datang dari boni, atas kepergian papinya yang membawaku ke rumah duka dharmais.. Diakhir januari, berita duka datang dari theo, atas kepergian papinya juga yang membuatku berkunjung ke rumah duka sint car...