Setiap penbincangan tanpa bertatap muka memang menyebabkan banyak persepsi.. Seperti kejadian beberapa menit yang lalu..
Saya sih ngetik ini sambil senyum-senyum..
Dimulai dari seorang teman yang memberi kabar di grup, kalau iya baru saja naik gojek sejauh 24km dan ditanggapi dengan teman-temannya.
"kasihan abangnya" balas beberapa teman.
"kenapa kasihan? bagus dong, abangnya dapat duit banyak" balasku
lalu..
"bagus sih, tapi kasihan" balas beberapa teman.
"kalo kasihan, kamu bisa apa?" balasku
dan
"emang kalau kasihan harus berbuat sesuatu" balas seorang teman.
"iya dong" balasku
kemudian teman yg naik gojek nulis
"aduh, gara-gara gw share ginian, lain kali ga lagi deh"
hmm..
kenapa dia merasa suasana di grup seperti orang bertengkar ya? padahal kan, aku biasa saja :D malah senyum-senyum.
"Jika setiap kejadian, lihat pengemis di jalan, nonton berita ada yg dibunuh,dll terus kita merasa kasihan dgn pengemis, keluarga korban, trus kita harus berbuat sesuatu, gitu? Kalau setiap merasa kasihan, berbuat sesuatu. Kalau seperti itu, yg ada justru kita yg layak dikasihani" balas temanku
sudah kuketik balasan, lalu kuhapus, kuketik lagi dan kuhapus lagi..
hingga
" kenapa harus mengasihani diri karena melakukan tindakan kasih??"
Dan dibalas lagi, tapi belum kubaca. Sudahlah tak usah mendebatkan kasihan dan tindakan. Lakukan saja yang menurutmu benar :D
**
Entah tahun berapa saat bersama ayah
"yah, orang itu kasihan ya" kataku
"terus kamu ngapain?" tanya ayahku
"diem aja"
"kalau ga berbuat sesuatu ga usah kasihan, kalau kasihan harus melakukan sesuatu"
Sejak itu kalau kasihan, aku harus melakukan sesuatu. Kacung kampret kaya aku gini bisa ngerjain apa sih, kalau kasihan sama orang lain?? Memang ga besar sih, tapi yang pasti aku doain, walau hanya satu kali.
terima kasih ayah.
terima kasih secara tak langsung telah menyuruhku BERTINDAK bukan hanya DIAM.
karena KASIHan adalah TINDAKAN kasih.
-sekian
Comments
Post a Comment