Matanya ingin menutup, karena sudah tiga hari ia tak tidur. Demi sesuatu yang katanya loyalitas, atau cinta yang berlebihan, ia paksakan diri untuk menyelesaikan hal yang harus diselesaikan.
Penampilan bisa menipu, tapi tidak dengan tubuh. Malam itu tak terlalu dingin, diantar sepeda motor, ia menuju kesana. Matanya sudah menutup berkali-kali. Bensin habis, terpaksa harus berjalan mencari. Berjalan dibelakang pengendara motor, matanya tertutup sambil berjalan, tanda ia harus istirahat.
Tempat tujuan telah dicapai. Gelap. Tanpa suara. Ia menunggu sendirian, sambil menyibukan diri membuat minuman, kali ini kepalanya yang berontak, ingin istirahat, tapi tak bisa, karena ia telah memulai.
Memang ia harus istirahat, batas awasnya sudah melewati batas, dan terjadilah yang ia takutkan, otaknya tak bisa digunakan.
Menyesal ia.
Ia menyesal.
Comments
Post a Comment