Skip to main content

Ditilang dua kali

qWeekend yang menyenangkan.
Belajar bersama kawan dan farewell seorang teman..
Niat hati tak ingin langsung pulang kerumah, tapi mengunjungi teman yang baru membuka kedai kopi di santa dua hari lalu bersama beberapa teman lainnya..

Memang bandel, jelas helm kurang satu, tapi tetap saja pergi..
Entah mengapa, rasanya akan sampai disana dengan selamat tanpa tilangan..
Apa daya, semesta memiliki kehendak berbeda..
Polisi memberhentikan motor yang kunaiki dan ditilang dengan surat merah..
Akhirnya sampai juga di santa..

Bertemu teman yang sudah lama tak jumpa, ngobrol ngalor ngidul, berfoto ria, mencicipi kopi dari kedainya..
Akhirnya kami harus pulang..
Kebetulan teman mau mengantar, tentu rasanya sangat senang..

"Tadi kan sudah ditilang, pasti ga akan ditilang lagi untuk kesalahan yang sama" pikirku kala itu, membuat hati sangat senang..
Mungkin lelah, dan pasti karena gelapnya malam, kami tak melihat rambu dilarang melintas, akhirnya kami ditilang lagi..
Lebih dari sebelas pengendara yang melakukan kesalahan sama, artinya salah siapa??

Tilangan pertama, hanya bertanya sim dan stnk lalu surat tilang diberikan..
Prosesnya sangat cepat, bahkan tak sampai 10 menit..
Kali ini berbeda, lama sekali rasanya..
Belasan pengendara yang diberhentikan, segera pergi, tapi kami masih disini..
Semua pasti berakhir, akhirnya kami diberikan surat tilang lagi!!

Inilah pengalaman pertama, dibonceng lalu ditilang dua kali..
Semua pasti berakhir dengan baik!!
Ini yang perlu diingat..
things will get easier, and YOU SHOULD BE ALIVE to see it!!

Sampai jumpa...

Comments

Popular posts from this blog

letstop

ini memang berkebalikan dengan homili kemarin.. tapi, mari berhenti.. let stop!! sudah.. berhenti saja.. tidak usah dipaksa dan tidak usah memaksa.. jika ingin masuk, sila.. jika ingin keluar, pintu terbuka.. mari berhenti.. berhenti memaksa.. biarlah semua, berjalan seperti maunya.. let stop.. just stop.. and let everythings fall into it place.. just breathe..

Berita duka

Temanku yang sudah punya staff dikantor itu bilang "paling ga enak waktu disuru ngasi satu nama untuk di phk, itu ga enak banget" Ngasih berita sedih memang ga enak, apalagi menerimanya.. :'( Rasanya seperti bertubi, mungkin ini berlebihan, tapi jika sudah memiliki keterikatan bisa saja ini dianggap normal.. Baru kemarin cerita ke mamanya teman "ga nyangka banget bu, sebelum ayah saya meninggal, papanya ini meninggal, terus papanya ini, terus papanya ini, kok ya deketan"  "terus papinya muridku kan meninggal, maminya cerita, kemarin suami dari temennya meninggal, terus suami dari temennya yang lain juga meninggal" Ahh, berita duka memang punya cerita.. Punya makna dan pelajaran, buatku.. 2017, dibulan ini, januari.. Diawal januari, berita duka datang dari boni, atas kepergian papinya yang membawaku ke rumah duka dharmais.. Diakhir januari, berita duka datang dari theo, atas kepergian papinya juga yang membuatku berkunjung ke rumah duka sint car...