Skip to main content

Ibu dari papua

Di jumat siang yang cerah..
Baru saja selesai mengunjungi rumah bunda, lalu ingin pergi ke tempat lain..
Saat menunggu angkot bertemu seorang ibu (bisa dibilang oma juga)..
Karena kami adalah warga Indonesia yang ramah, kami pun saling tersenyum..

"Kalau mau ke matahari naik nomer berapa?" Tanya ibu itu sambil memegang tisu menutupi mulutnya
"Matahari?? Adanya citos bu"
"Iya, ke mall itu naik nomer berapa?"
"Naik 02 bu"
Tak lama angkotnya datang dan saya stop dengan tangan kiri melambai-lambai
"Naik ini bu"
Saya dan ibu ini pun naik

Saya ingin mengeluarkan handphone untuk bermain game, lalu
"Sudah tak usah bayar, biar ibuu yang bayar"
"Gpp bu, saya bayar sendiri aja"
"Sudah tak usah, di papua sudah biasa"
Ooo ternyata ibu ini orang papua
"Saya orabg indonesia, di papua ada yang sudah merdeka dan buat negara sendiri, tapi saya tinggal di papua yang indonesia"
"Tiketnya ke papua mahal ya bu"
"Iya mahal sekali, paling murah 2jt"
"Raja ampat bagus sekali ya bu" (saya pikir jawabannya iya bagus sekali)
"Biasa saja, banyak di papua yang lebih bagus dari itu, tapi yang terkenal baru raja ampat" ( jadi tambah terpesona dengan papua)

Ibu papua yang lupa saya tanyakan namanya, ternyata seorang guru sd.
Datang ke Jakarta untuk berobat 4 bulan sekali..
Paling lama dijakarta bisa 1 bulan, kalau pemeriksaannya lama..
Paling cepat 1 mingguan..
Dilihat dari luar, ibu ini nampak biasa saja, seperti tak punya penyakit..
Tapi setelah berbincang lama jadi sedikit tahu..
Yaa, ibu ini kuat sekali menurut saya..
Karena sudah sekian tahun datang ke jakarta 4bulan sekali untuk berobat dan tetap tersenyum..

Hihii..
Terima kasih perbincangannya ibu guru dari papua dan terima kasih telah dibayarin angkot..

"Terima kasih sudah membantu ibu"
Padahal hanya menjawab pertanyaan saja..

You're somebody reason to smile ☺☺

Comments

Popular posts from this blog

letstop

ini memang berkebalikan dengan homili kemarin.. tapi, mari berhenti.. let stop!! sudah.. berhenti saja.. tidak usah dipaksa dan tidak usah memaksa.. jika ingin masuk, sila.. jika ingin keluar, pintu terbuka.. mari berhenti.. berhenti memaksa.. biarlah semua, berjalan seperti maunya.. let stop.. just stop.. and let everythings fall into it place.. just breathe..

Berita duka

Temanku yang sudah punya staff dikantor itu bilang "paling ga enak waktu disuru ngasi satu nama untuk di phk, itu ga enak banget" Ngasih berita sedih memang ga enak, apalagi menerimanya.. :'( Rasanya seperti bertubi, mungkin ini berlebihan, tapi jika sudah memiliki keterikatan bisa saja ini dianggap normal.. Baru kemarin cerita ke mamanya teman "ga nyangka banget bu, sebelum ayah saya meninggal, papanya ini meninggal, terus papanya ini, terus papanya ini, kok ya deketan"  "terus papinya muridku kan meninggal, maminya cerita, kemarin suami dari temennya meninggal, terus suami dari temennya yang lain juga meninggal" Ahh, berita duka memang punya cerita.. Punya makna dan pelajaran, buatku.. 2017, dibulan ini, januari.. Diawal januari, berita duka datang dari boni, atas kepergian papinya yang membawaku ke rumah duka dharmais.. Diakhir januari, berita duka datang dari theo, atas kepergian papinya juga yang membuatku berkunjung ke rumah duka sint car...