Skip to main content

Berlian dimanapun tempatnya akan terlihat!! (part 1)

Hanya lulusan SD..
Mempunyai sekolah hijau!!

Perawakannya kecil dan lincah, ceria, dan nampak sangat bahagia..
Kami pertama kali berjumpa saat aku dan temanku menjemputnya di rumah pak Yul - Jakarta.
Mba ningsih sapaanku untuknya, baru saja menerima penghargaan dari sinergi Indonesia 13 September 2014 di Bumi Perkemahan Cibubur, International Youth Camp and Concert.


Bukan hanya penghargaan internasional saja yang pernah ia dapatkan, ia juga pernah mendapat berbagai penghargaan nasional..

Pendidikan, salah satu jalan untuk keluar dari kemiskinan..
Tengkulak hidup makmur dan berkuasa, bebas menentukan berat timbangan sesukanya, petani tak bisa berbuat apa-apa, karena tidak tahu telah dicuranginya..


Ia mengajak orangtua untuk mendirikan sekolah, tapi mereka menolak
"bapak tidak sekolah saja punya istri empat, eneng sekolah tapi belum bersuami" itu salah satu penolakan yang ia terima..
Menyerah?? Tentu saja tidak, ia mencoba mendekati anak-anak,,
Tapi tak mudah, mereka tak mau sekolah karena sekolah bikin pusing..
Penolakan anak-anak membuatnya berpikir kreatif..

Ia mengambil seekor kambing yang dimiliki seorang anak, sang anak kebingungan dan menangis mencari kambingnya yang hilang.
"kenapa kamu menangis??" tanya mba Ning
"kambing saya hilang" jawab si anak
"berapa yang hilang??"
"tidak tahu"
"jumlah kambingnya ada berapa?"
"tidak tahu"
"kambingnya mba Ning umpetin, makanya sekolah biar bisa menghitung"
"engga mau, sekolah itu pusing"
"kalau begitu kita engga usah sekolah beneran, kita main sekolah-sekolahan"

Dia adalah murid pertama mba Ning, djajat namanya. Seorang anak yang tahu kambingnya hilang bukan berdasarkan hitungan tapi dari ciri fisik sang kambing..

Semakin lama, muridnya bertambah banyak, tapi tak berarti para orangtua setuju anaknya belajar, tak apa yang penting anak-anak sudah bisa baca-tulis-hitung..

Nana, anak yang sering mengikuti orangtuanya (petani) menjual hasil panen kepada tengkulak mulai berani..
"ini 20kg ya" kata tengkulak
"salah, ini harusnya 23kg" kata nana yang sudah bisa baca-tulis-hitung

akhirnya orangtua mendapat uang lebih banyak, cerita itu tersebar luas, akhirnya kehadiran mba Ning mulai diakui, perlakuan yang iya terima jauh lebih baik dari sebelumnya..
Para petani jadi mendapat hasil yang pas dari penjualan panennya ke tengkulak, tengkulak kini tak lagi semena-mena..

Bahagia mengetahuinya, tapi ada harga mahal yang harus dibayar mba Ning dari perbuatan baiknya..
Pelecehan terburuk yang diterima seorang perempuan

****

Comments

Popular posts from this blog

letstop

ini memang berkebalikan dengan homili kemarin.. tapi, mari berhenti.. let stop!! sudah.. berhenti saja.. tidak usah dipaksa dan tidak usah memaksa.. jika ingin masuk, sila.. jika ingin keluar, pintu terbuka.. mari berhenti.. berhenti memaksa.. biarlah semua, berjalan seperti maunya.. let stop.. just stop.. and let everythings fall into it place.. just breathe..

Berita duka

Temanku yang sudah punya staff dikantor itu bilang "paling ga enak waktu disuru ngasi satu nama untuk di phk, itu ga enak banget" Ngasih berita sedih memang ga enak, apalagi menerimanya.. :'( Rasanya seperti bertubi, mungkin ini berlebihan, tapi jika sudah memiliki keterikatan bisa saja ini dianggap normal.. Baru kemarin cerita ke mamanya teman "ga nyangka banget bu, sebelum ayah saya meninggal, papanya ini meninggal, terus papanya ini, terus papanya ini, kok ya deketan"  "terus papinya muridku kan meninggal, maminya cerita, kemarin suami dari temennya meninggal, terus suami dari temennya yang lain juga meninggal" Ahh, berita duka memang punya cerita.. Punya makna dan pelajaran, buatku.. 2017, dibulan ini, januari.. Diawal januari, berita duka datang dari boni, atas kepergian papinya yang membawaku ke rumah duka dharmais.. Diakhir januari, berita duka datang dari theo, atas kepergian papinya juga yang membuatku berkunjung ke rumah duka sint car...